Obat tradisional Indonesia semula hanya dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu obat tradisional atau jamu dan fitofarmaka. Namun, dengan semakin berkembangnya teknologi, telah diciptakan peralatan berteknologi tinggi yang membantu proses produksi sehingga industri jamu maupun industri farmasi mampu membuat jamu dalam bentuk ekstrak. Namun, sayang pembuatan sediaan yang lebih praktis ini belum diiringi dengan perkembangan penelitian sampai dengan uji klinik (Anonim, 2010)

Saat ini obat tradisional dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu jamu, obat ekstrak alam, dan fitofarmaka.

  1. 1. Jamu (Empirical based herbal medicine)

Jamu adalah obat tradisional yang disediakan secara tradisional, misalnya dalam bentuk serbuk seduhan, pil, dan cairan yang berisi seluruh bahan tanaman yang menjadi penyusun jamu tersebut serta digunakan secara tradisional. Pada umumnya, jenis ini dibuat dengan mengacu pada resep peninggalan leluhur yang disusun dari berbagai tanaman obat yang jumlahnya cukup banyak, berkisar antara 5 – 10 macam bahkan lebih. Bentuk jamu tidak memerlukan pembuktian ilmiah sampai dengan klinis, tetapi cukup dengan bukti empiris (Anonim, 2010)

 

 

Jamu yang telah digunakan secara turun-menurun selama berpuluh-puluh tahun bahkan mungkin ratusan tahun, telah membuktikan keamanan dan manfaat secara langsung untuk tujuan kesehatan tertentu (Anonim, 2010)

Obat Herbal Terstandar (OHT) / Scientific Based Herbal Medicine

  1. Pengertian

Obat herbal terstandar adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan

khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan bahan bakunya telah di standarisasi (BPOM, 2010).

Obat tradisional yang disajikan dari ekstrak atau penyarian bahan alam yang dapat berupa tanaman obat, binatang, maupun mineral.

Untuk mendapatkan OHT diperlukan peralatan yang lebih kompleks dan berharga mahal, ditambah tenaga kerja yang mendukung dengan pengetahuan maupun ketrampilan pembuatan ekstrak. Selain proses produksi dengan teknologi maju, jenis ini pada umumnya telah ditunjang dengan pembuktian ilmiah berupa penelitian-penelitian pre klinik seperti standar kandungan bahan berkhasiat, standar pembuatan ekstrak tanaman obat, standar pembuatan obat tradisional yang higienis, dan uji toksisitas maupun kronis (Anonim, 2009)

  1. Kriteria

1)      Aman sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan

2)      Klaim khasiat dibuktikan secara alamiah/praklinik

3)      Telah dilakukan standardisasi terhadap bahan baku yang digunakan dalam produk jadi (Humaidi, 2009)

  1. Logo

Logo pada Obat Herbal Terstandard harus mencantumlkan logo dan tulisa “ Obat Herbal Terstandar”. Tulisan “Obat Herbal Terstandar” harus jelas dan mudah dibaca. Logo berupa jari-jari daun (3 pasang) terletak dalam lingkaran dan ditempatkan dibagian atas kiri wadah/pembungkus/brosur. Logo tersebut dicetak dengan warna hijau diatas warna putih atau warna lain yang menyolok kontras dengan warna logo (Anonim,2009)

Pada dasarnya produk herbal terbagi atas 3 jenis, yaitu jamu tradisional warisan nenek moyang, obat herbal yang dikembangkan berdasarkan referensi , jenis ke-2 yaitu herbal terstandar , produk herbal yang sudah sedikit lebih maju karena telah dilakukan standarisasi terhadap bahan baku yang digunakan dalam produk jadi , jenis ke-3 tingkatan produk herbal yang paling tinggi yaitu fitofarmaka. Khusus fitofarmaka yang bisa diresepkan oleh dokter, konsepnya tidak berbeda dengan obat modern karena merupakan obat yang berasal dari tanaman dan telah melalui proses pra uji klinis dan uji klinis.

Saat ini baru ada 5 produk fitofarmaka di Indonesia, semuanya mendapat serifikat di tahun 2005. Kelima produk fitofarmaka tersebut diproduksi oleh empat perusahaan farmasi Indonesia. Manfaatnya untuk mengatasi berbagai kondisi yaitu sebagai anti diare, mengatasi rematik, immunomodulator, mengatasi tekanan darah dan untuk meningkatkan vitalitas pria.

  1. 1. Nodiar® Kimia Farma

Tiap tablet Nodiar mengandung :

Attapulgite …………………….. 300 mg
Psidii Folium Extract ……… ……. 50 mg
Curcuma domestica Rhizoma Extract …. 7.5 mg

Indikasi : diare yang tidak spesifik

  1. 2. X-Gra ® Phapros

Tiap kapsul berisi:
Ekstrak Ganoderma lucidum 150 mg
Ekstrak Eurycomae radix 50 mg
Ekstrak Ginseng 30 mg
Ekstrak Retrofracti fructus 2,5 mg
Royal jelly 5 mg

Indikasi: Meningkatkan stamina dan kesegaran tubuh, membantu meningkatkan stamina pria, membantu mengatasi disfungsi ereksi dan ejakulasi dini.

  1. 3. Stimuno® Dexa Medica

Komposisi: Tiap 5 ml Stimuno Sirup mengandung ekstrak Phyllanthus niruri 25 mg. Tiap kapsul Stimuno mengandung Phyllanthus niruri 50 mg

Indikasi: Membantu memperbaiki dan meningkatkan daya tahan tubuh

  1. 4. Tensigard®Phapros

Komposisi tiap kapsul berisi:
Ekstrak Apii herba 92mg
Ekstrak Orthosiphon folium 28mg
Indikasi: Menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolic

  1. 5. Rheumaneer® Nyonya Meneer

Komposisi:
Curcumae domesticae Rhizoma 95 mg
Zingiberis Rhizoma ekstrak 85 mg
Curcumae Rhizoma ekstrak 120 mg
Panduratae Rhizoma ekstrak 75 mg
Retrofracti Fructus ekstrak 125 mg
Indikasi: mebantu mengurangi  nyeri persendian.

 

Perbedaan mendasar antara obat herbal dengan fitofarmaka adalah adanya uji klinis dan uji lainnya yang harus dilalui. Semua berdasar klasifikasi produk herbal untuk obat dan makanan yang ditetapkan BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Fitofarmaka, klasifikasi tertinggi dalam produk herbal harus sudah melalui uji klinis. Jadi, fitofarmaka terdiri daris atu atau dua herbal yang tidak boleh lebih dari lima, yang telah melalui syarat keamanan. Yaitu melaui uji toksisitas, uji klinis dan terstandarisasi serta terjamin mutunya sesuai aturan yang berlaku. Pengembangan fitofarmaka terus dilakukan, karena fitofarmaka potensial untuk pengobatan, juga dapat dieksport sebagai obat yang berasal dari Indonesia.

Lama uji klinis tergantung dari penyakitnya. Untuk produk immunomodulator, diuji untuk penyakit TBC. Yaitu bagaimana penambahan immunomodulator pada standar terapi itu mengurangi angka keparahan pasien atau mengurangi kemungkinan pasien menularkankuman TB ke orang yang sehat. Karena terapi TBC itu perlu waktu lama, maka uji klinis tersebut dikontrol selama minimal enam bulan. Sampai saat ini, Dexa Medica telah melakukan uji klinis STIMUNO sebanyak 15 kali, diuji pada sekitar 600 pasien untuk berbagai macam kasus, mulai dari TBC sampai dengan Herpes Zoster, Hepatitis dan infeksi HIV.

Produksi Fitofarmaka harus mengikuti kaidah Good Agricultural Practice (GAP) .Artinya, cara-cara produksi mulai dari penanaman, pemeliharaan panen tanaman, proses setelah panen, semuanya harus mengikuti standar internasional. Cara pembuatan produk obat herbal tradisional ini pun harus mengikuti kaidah Good Manufacturing Practice (GMP) . Sebagai contoh , adalah produk keluaran PT. Dexa Medica yang telah menerima sertifikat fitofarmaka dari BPOM untuk produk imunomodulator yaitu STIMUNO. Produk ini merupakan jenis fitofarmaka imunomodulator berbahan ekstrakPhyllanhus niruri atau meniran. Imunomodulator diperlukan ketika seseorang sedang dalam kondisi kelelahan, kurang istirahat, stres, bepergianjauh, kontak dengan penderita atau berada di tempat yang sedang terserang wabah.

Jika ada beberapa ekstraksi Phyllanthus ynag ditanam di tempat berbedadan proses penanamannya juga berbeda, belum tentu kliam imunomodulator-nya sama. Itulah sebabnya, fitofarmaka harus bersumber pada tanaman yang proses penanamannya baik , ditanam di tempat yang sudah terstandarisasi dan diproses secara GAP dan GMP, sehingga hasilnya pun baik bagi pengobatan penyakit.

Pemerintah sedang mengusahakan agar fitofarmaka bisa diresepkan dokter. Sehingga saat ini sedang berlangsung sosialisasi pada dokter-dokter dan masyarakat tentang fitofarmaka. Yang perlu diketahui masyarakat adalah jika produk herbal sudah terstandarisasi dan keamanan serta mutunya terjamin dan sudah diuji klini maka obat herbal ini disebut fitofarmaka.

Restu Maharany Arumningtyas

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Mengenal Penggolongan Obat (Bagian 3 – Tamat). http://www.ptphapros.co.id/ article.php?&m=Article&aid=19&lg=. Diakses tanggal 19 Oktober 2010.Bottom of

 

Iklan