Polip hidung adalah hipertrofi yang edematosa dari mukosa hidung, diakibatkan oleh proses inflamasi yang edematosa pula. Dapat tumbuh tunggal atau banyak dan dapat pula bertangkai atau tidak bertangkai. Dibedakan dari bentuk komponen kelenjarnya. Polip dapat berubah menjadi kista akibat degenerasi kelenjar. Polip dapat dibagi dalam bentuk edematosa, fibrosa dan vaskuler. Polip edematosa paling sering ditemukan dalam rongga hidung dan sinus paranasal. Bentuknya licin, mengkilat, putih keabu-abuan dan seperti buah anggur. Polip fibrosa lebih padat, suram dan berwarna pucat. Polip vaskuler ditandai dengan baynaknya pembuluh darah di dalam tunika propria, sehingga berwarna merah muda.
Cauna dan timnya telah menyelidiki ultrastruktur dari polip alergi. Ditemukannya jaringan polip yang tidak mengandung saraf sensoris, vasomotor maupun sekretomotor. Terdapat peningkatan jumlah sel neutrofil dan eosinofil dan sel plasma, tunggal maupun berkelompok, yang menunjukkan aktivitas dalam sisterna dari reticulum endoplasma dan zona Golgi. Sel mastosit tampak khas dengan granula yang sebagian kosong. Yang sangat menarik bahwa venula daru polip secara tetap menunjukkan pertautan endotel yang terbuka, menandakan kebocoran pembuluh darah.
Polip antrokoana perlu dibicarakan secara khusus, karena banyak perbedaan klinis dengan polip nasi biasa. Tumbuh dari mukosa sinus maksila dekat ostium atau dinding posterior sinus. Berkembang seperta gelas waktu melalui osteum dan ditemukan dalam berbagai ukuran di nasofaring. Kadang-kadang ditemukan sedemikian besar sehingga memenuhi ruang nasofaring dan terlihat di bawah palatum mole.
Teknik operatif : dengan pembiusan umum senar kawat dimasukkan melalui rongga hidung yang terkena sampai ke nasofaring. Jari telunjuk kanan dimasukkan melalui mulut ke nasofaring dan senar kawat dikaitkan dengan pada polip sambil tangan kiri menciutkan senar kawat sampai tempat tangkainya ke luar dari ostium sinus maksila. Senar kawat makin diciutkan. Polip dipegang dengan cunam melalui mulut sebelum tangkai polip diputuskan dengan dengan senar tadi. Biasana rongga natrum yang terkena tampak suram pada foto Rontgen. Kecuali bila dilakukan pembedahan Caldell-Luc, kemungkinan untuk kambuh selalu ada.
Sumber : penyakit telinga, hidung, tenggorok, kepala dan leher. John Jacob Ballenger. Jakarta : binarupa aksara 1994.