Baru-baru ini telah dilaporkan bahwa dosis tinggi dari thiamine (vitamin B1) secara nyata dapat menurunkan ekskresi dari albumin dan dapat memperbaiki stadium ginjal kronik stadium awal pada pasien diabetes mellitus (DM) tipe 2. Pernyataan ini merupakan laporan studi pilot yang telah dipublikasikan pada Jurnal Diabetologia pada bulan Desember 2008 ini.

Penyakit diabetes sangat erat hubungannya dengan kelainan vaskular baik yang bersifat mikrovaskular seperti kerusakan ginjal (nephropati diabetes) dan retina hingga yang bersifat makrovaskular seperti: penyakit jantung dan stroke. Adanya mikroalbuminuria dapat menjadi petanda awal telah terjadinya kerusakan ginjal. Dari studi sebelumnya yang telah dilakukan oleh The University of Warwick,Inggris menunjukkan bahwa pasien-pasien diabetes mengalami defisiensi thiamine dalam plasma darahnya. Rendahnya kadar thiamine dalam plasma darah pada pasien diabetes ini ternyata berhubungan dengan peningkatan komplikasi vaskular (Diabetologia August 4th). Para peneliti melihat bahwa konsentrasi dari thiamine menurun hingga 76% pada pasien diabetes tipe 1 dan 75% pada diabetes tipe 2. Menurut para peneliti, defisiensi thiamine pada pasien PGK bukan diakibatkan karena rendahnya asupan vitamin B1 ini tetapi lebih dikarenakan peningkatan buangan thiamine darah melalui urin.

Melalui studi acak, buta ganda yang dilakukan juga oleh The University of Warwick ini mencoba melihat apakah pemberian suplemen thiamine dapat memperbaiki mikroalbuminuria pada pasien diabetes tipe 2.

Sejumlah 40 pasien diabetes tipe 2 dengan rentang usia 35-65 tahun dilibatkan, selanjutnya secara acak pasien diberikan thiamine dengan dosis 300 mg/hari (3x100mg) atau plasebo selama 3 bulan. Target utama dari studi ini adalah untuk melihat perubahan dari albumin yang tereksresikan lewat urin.

Hasil menunjukkan bahwa kelompok yang mendapat thiamine mengalami penurunan ekskresi albumin hingga 41% dibandingkan pada awal terapi (median -17.7 mg/24 jam; p < 0.001, n = 20). Kadar albumin yang diekresikan melalui urin pada kelompok thiamine dibandingkan kelompok placebo lebih rendah (30.1 vs 35.5 mg/24 jam, p < 0.01) Selain itu sejumlah 35% pasien dengan mikroalbuminuria kadar ekresi albumin urinnya menjadi dalam batas normal setelah mendapat terapi dari thiamine ini. Tidak dijumpai efek samping yang bermakna, serta tidak terjadi gangguan terhadap kontrol kadar gula darah maupun profil lipid selama thiamine diberikan.

Kesimpulan dari studi ini adalah bahwa pemberian thiamine dosis tinggi dapat mengoptimalkan terapi dan mengurangi insiden mikroalbuminuria pada pasien nepropati diabetes stadium awal. Pemberian suplemen vitamin B1 dapat dipertimbangkan khususnya pada stadium awal nephropati diabetes untuk mengurangi risiko kerusakan vaskular pada pasien-pasien ini.(kalbe.co.id)