Program imunisasi yang dilakukan pemerintah sejak 30 tahun lalu berhasil menurunkan angka kejadian penyakit seperti cacar, polio, campak, dan hepatitis B.

“Melalui kegiatan ini kami harap dokter dan tenaga medis dapat memberikan pelayanan imunisasi dengan baik, benar, dan up to date sehingga tujuan dan cakupan imunisasi tercapai,” ujar Sri Rezeki Hadinegoro, Ketua Tim Pendidikan Dokter Berkelanjutan Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM.

Dia berbicara pada acara simposium nasional imunisasi ke-1 di Hotel Borobudur yang diikuti sekitar 400 tnaga medis yang terdiri dari dokter spesialis anak, dokter umum, bidan, dan perawat.

Acara yang digelar pada 27-30 Oktober ini bertujuan untuk lebih meningkatkan profesionalisme dalam memberikan pelayanan kesehatan optimal khususnya dalam hal imunisasi.

Selanjutnya Sri Rezeki mengungkapkan di Indonesia tiap tahun lahir sekitar 4,5 juta bayi. Saat ini, imunisasi rutin program pemerintah mencakup vaksin hepatitis B, polio, BCG, DPT, campak, DT, dan TT. Cakupan imunisasi mencapai 80-90%.

Menurut dia, program imunisasi harus mendapat perhatian terus menerus karena berkembangnya pola penyakit yang menuntut peningkatan pengetahuan dan keterampilan semua profesi kesehatan yang terkait dengan imunisasi.

“Makin banyak anak Indonesia diimunisasi, maka makin banyak yang kebal penyakit. Ini bisa memutuskan rantai penyakit,” tambahnya.

Sementara itu, ketua pelaksana simposium Soedjatmiko mengatakan sejalan dengan perkembangan ilmu kedokteran, telah banyak jenis vaksin yang direkomendasikan namun belum dapat dijadikan program pemerintah karena terkait biaya.

Vaksin seperti Hib, MMR, Tifoid, Hepatitis A, Varisela, Influensa, Pnemokokus, dan HPV belum termasuk program pemerintah